
sepanjang jalan by pass ngurah rai sampai ke Jl. pratama tanjung benoa tempat tinggal saya selama dibali, saya tidak melihat yang namanya tambal ban, mungkin mata saya yang bermasalah atau memang demikian kenyataannya. tidak seperti didaerah2 lain yang kanan kiri banyak tempat tambal ban
sempat kwatir waktu pertama kali disana, kalau-kalau sampai terjadi kebocoran ban, mau ditambalkan dimana? bisa-bisa dorong sampai denpasar, itupun saya tidak tahu dimana tempat tambal bannya, tapi saya yakin kalau disana pasti ada, ya… masa sih, kota provinsi seperti denpasar tidak punya tukang tambal ban yang stay disana.
tapi setelah lama disana kekawatiran saya tidak terbukti dan semoga jangan terbukti, kalau sampai terbukti bisa niup ban setiap 10 meter sekali kalau tidak mau dorong sampai denpasar (ah… kelihatannya saya berlebihan!)
yang menjadi pertanyaan adalah kenapa selama 2 bulan kalau digabung dengan bulan kemarin keberadaan saya di bali tidak pernah mengalami insiden seperti yang saya kwatirkan, apakah ban motor yang saya pakai selama disana kwalitas bagus, ah gak juga…, saya bisa mengatakan ban motor saya yang disemarang lebih bagus, tapi anehnya ban motor yang disemarang, yang notabene saya klaim lebih bagus kwalitasnya justru sering bocor ditengah jalan, sehingga saya harus mendorong sampai ke tempat tukang tambal ban, yah… untungnya tambal ban yang disemarang jaraknya berdekatan, jadi saya tidak perlu berkilo-kilo meter untuk mendorongnya.
sempat terfikir dalam benak saya apakah terlalu banyak tempat tambal ban malah membuat banyak kendaraan bocor bannya, bukan tanpa alasan mendiskreditkan mereka tukang tambal ban yang berjasa pada saya disaat ban saya bocor, tapi kenyataan sewaktu tinggal dibali saya tidak pernah mengalami peristiwa ban bocor dan hanya melihat sekali pengendara sepeda motor yang bannya gembos. tidak seperti disemarang atau mungkin didaerah lain, yang dalam 1 minggu paling tidak saya melihat 1 pengendara mendorong kendaraan karena ban bocor atau mungkin 1 bulan sekali saya yang mengalaminya sendiri.
tapi terlepas dari prasangka buruk saya tentang itu semua dan semoga saya salah dalam berasumsi, saya tetap berterimakasih kepada mereka (red- tukang tambal ban)
STOP…!!! sampai disini, setelah menyelesaikan tulisan diatas, dari mulai huruf “s” s/d tanda”)” yang pada saat itu merupakan hari-hari terakhir masa tugas saya dibali, sehari sebelum saya kembali kesemarang saya menghabiskan waktu berjalan-jalan seharian dan saat hendak pulang saya mengalami kebocoran ban yang pertama, yang mengakibatkan saya batal untuk menerbitkan postingan diatas, hingga akhirnya baru sekarang saya terbitkan dengan imbuhan statement bahwa tulisan saya diatas ternyata tidak sepenuhnya benar, bahwa ternyata pada saat dibali saya juga mengalami kebocoran ban.
Recent Comments