Pagi itu 11 agust 08 kami berempat team pendaki amatiran yang terdiri dari aku (arif), muktar, ari dan ali mencoba untuk menjajal nyali dengan bertekad mendaki kepuncak merapi, kami berangkat dari semarang dengan persiapan yang belum matang tp ya hampir2 matang…, menuju boyolali by P.O Safari. dengan iuran masing2 anggota sebesar Rp 50.000 dan saat itu sayalah yang terpilih sebagai pejabat bendahara, kami pun sampai dengan selamat diboyolali.
Perjalanan selanjutnya setelah dari boyolali adalah menuju selo, dengan naik bus kecil dari terminal boyolali yang sudah berumur, kami akhirnya sampai kesebuah pasar, disana kita harus pindah bis lagi dan tentunya saya selaku pejabat bendahara harus mengeluarkan anggaran untuk membayar bis yang berikutnya lagi setelah dua bis sebelumnya. Kali ini perjalanan tidak seperti sebelumnya, jalan yg dilalui cukup menanjak karena memang sdh mendekati lereng merapi dan merbabu, setelah berjalan cukup lama akhirnya bis yang kami tumpangi sampai juga diselo.
Dari selo kita berjalan menuju base camp merapi, disinilah nantinya kita akan beristirahat sejenak sambil menunggu detik2 yang menentukan untuk kita mengawali langkah menuju medan pendakian yang terjal dan berliku “begitu kata muktar yang saat itu ditunjuk sebagai kepala suku karena sdh pernah ke merapi” setelah cukup lama berjalan akhirnya kita sampai jg dibase camp.
Setelah cukup beristirahat dan waktu menujukkan pukul 21.00 akhirnya dengan tekad dan semangat yg menggebu-gebu kita mulai pendakian setelah beberapa dari team pendaki lain berangkat duluan, sebelum kita berangkat tidak lupa kita berdo’a dulu agar diberi keselamatan, setelah do’a selesai dengan 3 senter yang menemani kita, dan dari ketiga senter itu senterkulah yang paling besar dan paling terang… hehehe (1 poin plus buatku) tapi pinjem kantor tanpa sepengetahauan yang punya, maaf ya…!!! Hehehe lagi… dan dari keempat anggota team hanya ali yang tidak membawa padahal sebelumnya sudah diberi tahu oleh kepala suku agar membawa karena kita akan menempuh pendakian pada malam hari.
Perjalanan dari base camp menuju pos 1 ini tidak begitu terjal dan curam, dikanan kiri banyak tanaman tembakau, “rupanya masyarakat sekitar bertani sampai sejauh ini pikirku”, walaupun tidak begitu terjal dan curam tapi kita perlu berhati-hati karena disamping jalan yang kita lalui adalah tebing yang sangat curam, dengan tertatih-tatih akhirnya kita sampai juga ke pos1, di pos 1 ini kita istirahat dulu sambil menyalakan api unggun yang diawali dengan membakar parafin yang telah ku beli dari johar sehari sebelum berangkat, setelah jadi api unggun kami mengerumuni karena hawanya sangat dingin.
Lama kelamaan api unggunpun mati karena pasokan kayunya menipis dan akhirnya habis, setelah api mati kami tiduran untuk merenggangkan otot2, disaat kami tiduran itu aku mendengar lagu donna-donna yang dijadikan sebagai salah satu soundtrack film gie, rupanya team pendaki lain ada yang bawa tape berada tak jauh dari kami.
Berikut lirik lagu nya itu yang dinyanyikan Sita RSD
On a waggon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.
How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer`s night.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.
“Stop complaining!” said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?”
Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.
Saat mendengar lagu itu aku teringat sosok Soe Hok Gie, dia adalah seorang mahasiswa yang dikenal sebagai demonstran dan pecinta alam (pendaki gunung seperti kami)cie… Aku kagum dengan sepak terjang dan pemikirannya, karena Soe Hok Gie ini mengembangkan minat terhadap konsep-konsep idealis yang dipaparkan oleh intelek-intelek kelas dunia. Semangat perjuangnya, setia kawannya, dan hatinya yang dipenuhi kepedulian sejati akan orang lain dan tanah airnya membaur di dalam diri Soe Hok Gie dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang tidak toleran terhadap ketidak adilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni, Saat itulah aku berkata dengan teman2 “ndes…!!! soe hok gie ki mesti wes pernah munggah rene, deknene kan wes akeh lek nakhlukke gunung, mesti gunung sekelas merapi ki yo wes pernah diunggahi” karena aku tau dia sangat gemar sekali naik gunung, pernah dia berkata “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth” dari situ aku tau gie suka sekali dengan kehidupan di alam bebas, lalu sesaat kemudian muktar yang mewakili representasi dari mereka berkata “gie…??! Gila maksudmu, kuwe ki to gila” lalu aku pun menimpalinya lagi dengan berkata “ruuupamu…!!!”. Rupanya temanku tidak begitu sensitive terhadap dunia perpolitikan dimasa lalu, hanya aku yg mengerti… hehehe…
Beberapa saat setelah alunan lagu itu selesai kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju pos 2, kali ini medan yang kita tempuh terjal dan berbatu, dengan semangat dan bertindak hati-hati kita pun mendaki lagi, kali ini disebelah kanan dan kiri jalan yang kita lalui bukan lagi tanaman tembakau yang sengaja ditanam oleh masyarakat sekitar lereng merapi karena daerah ini sudah jauh dari jangkauan petani, namun yang tertanam adalah bunga2 edelweis yg dengan proses alamiah tumbuh dan mengembangkan bunga2 yang indah itu sendiri, tentunya dengan kehendak Tuhan.
Lama perjalanan menuju pos 2 ini, kita sampai beristirahat beberapa kali tapi dengan sedikit demi sedikit kita berjalan akhirnya kita pun sampai di pos 2, dipos 2 ini kita istirahat lagi tp tdk begitu lama seperti di pos 1, rupanya organ tubuh terutama kaki kita mulai terbiasa berjalan dimedan yang menanjak begini, akhirnya kami melanjutkan pendakian lagi, dari pos 2 ini awalnya medan yang kita tempuh adalah jalan yang datar dari situ kita bisa melihat bintang2 yang ada dilangit, INDAH… Sekali, like name my best friend, namun hanya dekat saja jarak itu setelahnya adalah kembali mulai menanjak dan kali ini lebih curam dibanding sebelumnya dan jalur yang kita lalui berbeda. kita lewat jalur bekas air hujan/ apa! yang mengalir dari atas gunung kebawah, jalur itu lebarnya serasa pas seukuran tubuh pendaki, tentunya yang saya maksud disini adalah ukuran tubuh yang normal alias tidak gendut… hehehe… tidak bisa membayangkan kalo ada pendaki yang gendut pasti dia terjepit dijalur itu layaknya mobil mogok karena sdh bobrok… maaf ya bagi pembaca yang gendut…!!! Bukan diskriminasi nih tapi merupakan bentuk dari informasi kalo gendut itu emang harus rela tidak bisa melakukan sesuatu disaat-saat dan kondisi2 tertentu. Sekali lagi mohon maaf…
Setelah melewati medan yang demikian akhirnya kita sampai juga dipos 3, pos 3 kali ini adalah sebuah lokasi lapang yg cukup luas tp jangan berfikir kl kita bisa main bola disini karena bentuknya cembung, diatas cembungan itu ada beberapa nisan yang waktu itu sempat diduduki oleh ari yang tidak tau karena gelap, dan pada saat dia diberi tahu muktar, he say “sorry-sorry mbah aku rak ngerti” hahaha dasar…!!! Tempat ini dinamakan pasar bubrah, konon kabarnya pasar bubrah ini adalah pasarnya setan jadi tempat ini adalah tempat bertemunya setan2 dari berbagai penjuru untuk melakukan transaksi perdagangan, baik bilateral maupun multilateral atau juga belanja kebutuhan untuk sehari2 (sembako), dan mungkin setan penjualnya didominasi oleh setan etnis tionghoa karena bukan rahasia lagi kalau etnis tersebut lah yg terkenal ulet dalam berdagang. Hiiii…. Serem…..
Dari sini seperti yang terlihat di foto atas ini kita menanti sun rise dan melihat pemandangan yang menakjubkan serta tak lupa kita berfoto-foto ria disini tapi perlu digaris bawahi kita fotonya tidak narsis, setelah puas menikmati pemandangan yang diciptakan Tuhan yang luar biasa ini kita lanjutkan pendakian menuju puncak garuda karena pemandangan yang indah tadi sdh mulai ditutupi awan dan rasanya awan sdh berada dikaki kita, maka kita pun harus bergerak cepat, kali ini medan yang kita tempuh tidak sejauh medan2 sebelumnya tapi bukan lagi mendaki tapi sudah merupakan panjat tebing, untuk menuju puncak garuda kita harus melewati medan tersebut yang berbatu, kita melewati celah2 dari batu2 besar bekas bongkahan letusan dari mulut merapi, tidak begitu jauh namun kondisi medan yang demikian membuat kita merayap pelan, saat itu lah satu dari team kami muntah air karena lelah dan terlalu banyak minum air, namun dia bisa bertahan sampai puncak… selamat ya li, kamu hebat…!!!
Dengan perjuangan keras kita akhirnya sampai juga di puncak terakhir yaitu puncak yang sangat terkenal, dia adalah PUNCAK GARUDA.
Wooooeeeeeeeeeeee……………. Gilaaaaaaaa………!!!!!! Akhirnya sampai juga di puncak garuda…
Dari Ketinggian 2.968 m (9.737 kaki) dpl ini kami melihat pemandangan yang luar biasa menakjubkan hebatnya, dari puncak kita bisa melihat beberapa gunung mulai yang terdekat gunung merbabu, ungaran, lawu sampai yg terjauh didaerah sebelum wonosobo yaitu gunung sindoro dan sumbing.
Disini kita tidak ketinggalan untuk mengabadikan momen bersejarah dengan foto2, namun sayang kami harus kecewa karena foto pose terbaik kami jadi terbakar karena diambil menggunakan kamera analog jadul merek fuji milik ari… “wah rik potomu ki kamsoe…” tapi gak masalah secara keseluruhan kami puas sekali, petualangan ini mungkin tidak akan terlupakan seumur hidup kami…
Thanks ya friends, you are the best my team…









wuah……………….
merapi……….
mau dong ikutan daki merapi ………….
(wishfull banget deh secara bdn udah tambah gede n izin dr ortu yang bakal susah turun…..)
ada hantunya tidak disana ???
Apa ada hantunya disana ??? temannya ariweb.110mb.com ya ???
Namanya aja juga bendahara fren…tapi kan iurannya masih sisa..temen2 pada ikhlas kok kita minta kamu gak mau..dasar korup nih he3x
wah naik gung ya???
jadi pengen
tapi sayang bisanya naik gunung kemb ..ah sudahlah…
wah aku belum pernah ke merapi. Kapan-kapan ikut ya,mas kalo muncak lagi? aku baru merbabu sama ungaran
waaah,jadi inget masa lalu,waktu jaya2nya dulu…weleh